Karir Sekretaris


PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP
PERKEMBANGAN KARIR SEKRETARIS

1.    Pengertian Konsep Diri
Untuk membentuk kepribadian yang baik maka dibutuhkan pemahaman dari karakter siri sendiri. Sehingga kita mempunyai sautu karakter yang kuat yang membedakan kita dengan orang lainnya. Cara kita memandang dan menilai diri kita sendiri disebut sebagai konsep diri. Seorang sekretaris harus mempunyai konsep diri yang positif sehingga ia merasa  yakin degan kemampuanya. Ketika membantu pimpinan untuk menyelesaikan kepentingan kantor maka konsep diri seorang sekretaris sangat diperlukan apalagi ketika sekretaris dimintai pendapat mengenai suatu hal. Dengan konsep diri yang positif maka sekretaris tidak hanya belaku sebagai robot yang hanya bisa diperintah-perintah oleh pimpinannya, tetapi ia juga mempunyai inisiatif dalam penyelesaiaan tugas kantor.
Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita yang disebut sebagai konsep diri. Ketika seorang sekretaris telah berusaha untuk menunjukan kepribaian yang baik maka sekretaris harus menilai bagaimana orang lain melihat kita. Dengan begitu akan seorang sekretaris akan mengetahui sikap atau perilakunya belum bisa diterima orang lain. Maka dengan penilaian orang lain tersebut, sekretaris akan memperbaiki perilakunya agar bisa diterima oleh lingkungannya. Secara garis besar, konsep diri dapat iartikan sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Atau dapat di katakan Persepsi mengenai diri sendiri. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisis. Untuk mengetahuinya, kita bisa mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri:
a.    Bagaimana watak saya sebenarnya?
b.    Bagaimana orang lain memandang saya?
c.    Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?
d.    Bagaimanda pandangan saya tentang penampilan saya?
Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri: komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif dapat berupa penyataan bahwa “saya ini orang tidak menarik” dan komponen afektif kita berkata : “saya senang diri tidak menarik, ini lebih baik bagi saya.” atau komponen afektifnya bisa berupa “saya malu sekali karena saya menjadi orang yang tidak menarik.” Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self image) dan komponen afektif disebut harga diri (self esteem). Secara rinci akan di jelaskan sebagai berikut:
a.    Citra Diri
Untuk mewujudkan penampilan yang prima maka seorang sekretaris harus mempunyai citra diri yang merupakan intregrasi intelektualitas, watak, perilaku, karya dan penampilan seseorang di depan umum. Sesuai dengan teori psikologi bahwa orang bertemu muka, pertama kali yang akan terlinras adalah hallo effect. Yakni pertemuan pertama itu sangat mempengaruhi penampilan seseorang terhadap orang lain. Jika pertemua pertama memounyai kesan menyenangkan maka akan lebih mudah menjalin hubungan selanjutnya. Tetapi sebaliknya, jika pertemuan pertama ridak mengenakkan, maka untuk hubungan selanjutnya akan terasa lebih sulit dalam pendekatannya (Rosidah & Ambar, 2005:64).
b.    Harga diri
Merupakan tingkat penerimaan diri kita dilingkungan kita berada. Seorang sekretaris harus mempunyai harga diri yang tinggi, agar keberadaannya dapat diterima dalam segala kondisi. Dapat dicontohkan seperti ketika mengikuti rapat penjualan produk yang menurun, walaupun hal ini bukan bidangnya seorang sekretaris maka setidaknya ia harus menyumbang idea tau gagasan yang dapat menunjang peningkatan penjualan produk agar keberadaanya dalam rapat tersebut dapat dihargai oleh anggota rapat yang lain.

2.    Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri:
a.    Orang lain
Kita mengenal diri kita dengan mengenala orang lain lebih dahulu. Bagaimana orang lain melihat kita akan membentuk konsep diri kita. Sedangkan orang lain melihat diri kita dari apa yang kita tampilkan kepada mereka. Dapat saya contohkan mengenai Drs. Jalaluddin Rakhmat, beliau adalah oaran Indonesia yang memperoleh beasiswa Fullbright di Amerika. Orang Amerika mengenal mahasisa yang mendapat beasiswa ssebagai orang-orang cerdas dan ketua Departemen Komunikasi Massa memprkenalkan saya sebagai mahsiswa yang Full bright”. Semua orang disana menganggap bahwa ia orang yang cerdas, bahkan teman-teman kuliahnya member julukan sebagai professor. Tiba-tiba ia yang lulus biasa-biasa daja di Indonesia, mendapat penghargaan yang luar biasa tersebut. Citra dirinya sedah terbentuk, dan ia berusaha mempertahankan citra diri yang telah didapat. Ia berfikir “saya cerdas, karena itu saya harus berhasil.” Hinga Akhirnya ia benar-benar berhasil. Konsep diriny terbetuk karena pujian orang lain. Sampai sekarang ia masih ragu apakah keberhasilan itu timbul karena kecerdasannya atau karena pujian orang kepadanya.
b.    Kelompok Rujukan
Dalam pergaulan sehari-hari, kita pasti menjadi ornggata berbagai kompok, contoh: RT, Persatuan Bulutangkis, atau Ikatan Sarjana Komuniksasi. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita yang disebut kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan cirri-ciri kelompoknya. Apabila seorang sekretaris menjadi anggota dari Ikatan sekretaris maka, ia menjadikan norma-norma dalam ikatan ini sebagai ukuran perilakunya. Sekretaris juga merasa diri sebgai bagian dari kelompok ini, lengkap dengan seluruh sifat-sifat skretaris menurut persepsinya.

3.    Pengaruh Konsep Diri terhadap Perkembangan Karir Sekretaris
Apabila seorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, maka ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilaki akademis yang baik. Bagitu juga bagi sekretaris yang professional, ia akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, berpakaian yang rapi agar terlihat menarik bagi orang lain. Bila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada orang-orang yand dihormatinya, tidak mampu berbicara didepan umum, atau ragu-ragu menuliskan pemikirannya. Apabila kita berfikir diri kita sebagai orang yang pandai, maka kita akan benar-benar menjadi orang pandai. Kita berudaha hidup sesuai dengan label yang kita lekatkan pada diri kita sendiri. Hubungan konsep diri dengan perilaku, dapat disimpulkan dengan ucapan: You don’t think what you are, you are what you think.
Kesuksesan seorang sekretaris dalam bekomunikasi dengan pimpinan, teman kerja dan kolega sangat dipengaruhi oleh kualitas konsep diri. Untuk mendapatkan perhatian orang lain, sekretaris harus mempunyai konsep diri yang positif. Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert dalam buku Psikologi Komunikasi (Jalaluddin, 2003:105) ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif
a.    Peka pada kritik
Orang ini sangat tidak tahan pada kritik yang driterimanya, dan mudah marah. Bagi orang ini koreksi seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan haraga dirinya.
b.    Responsif sekali terhadap pujian
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujiam, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Untuk orang yang seperti ini, segala macam hal-hal yang menunjang haraga dirinya menjadi pusat perhatiannya.
c.    Cenderung Merasa tidak disenangi orang lain
Ia merasa tidak diperhatikan karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh. Sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan.
d.    Pesimis terhadap kompetisi
Seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Dalam kenyataan, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhkanya berkonsep diri negatif atau positif. Akan tetapi kita harus berupaya agar mempunyai konsep diri yang positif. Konsep diri yang positif ditandai dengan beberapa hal berikut:
a.       Meyakini betul-betuk nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta berseia mempertahankannya, walaupun mengahadapi pendapat kelompok yang kuat.
b.      Mampu berindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakan jika orang lain tiak menyetujui tindakannya.
c.       Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.
d.      Memiliki keyakinan pada kemampuannya utnuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
e.       Merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertantu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.
f.        Sanggup menerima dirinya senagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya (Jalaluddin, 2003:106).
Seorang sekretaris yang professional setidaknya harus memiliki beberapa karakteristik konsep diri yang positif tersebut, agar ia lebih mudah untuk berkomunikasi dengan atasan maupun relasi perusahaan agar membantu melancarkan tugas pimpinan. Seorang sekretaris yang mempunyai konsep diri yang positif akan mendapatkan kepercayaan yang tingii dari atasanya, sehingga karirnya sebagai sekretaris dapat berkembang.


Daftar Pustaka
Jalaluddin Rakhmat. 2003.Psikologi Komunikasi.Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Rosidah & Ambar Teguh Sulistiyani.2005.Menjadi Sekretaris Profesional & Kantor Yang Efektif.Yogyakarta:Gava Meia

0 komentar:

Posting Komentar